Abaikan Sejarah Bengkulu, Sejak Dilantik Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Menuai Berbagai Kontroversi

Bengkulu.Beritasangsaka.com – Sejak dilantik menjadi Gubernur Bengkulu Helmi Hasan dan Wakil Gubernur Mian, diduga banyak menimbulkan persoalan, kontroversi kebijakan yang diduga abaikan sejarah menjadi polimik dimasyarakat Bengkulu, 

Khusunya tokoh masyarakat dan tokoh adat Bengkulu sejak pergantian nama Bengkulu menjadi nama Bumi Merah Putih.

Ketua Umum DPP LSM Gerakan Reformasi Indonesia (Gerindo) Bengkulu Iriyanto S.P.Ip menuturkan sejarah timbulnya nama Bumi Raflesia adalah akibat temuan bunga Bangkai disebut Bunga Raflesia adalah peninggalan Inggris, sejak itu disebut Bumi Raflesia.

Namun penguasa Helmi Hasan menggantikan Bumi Merah Putih (BMP) yang diduga tanpa dikordinasikan kepada tokoh masyarakat.

Hal yang sama Rumah Adat Bengkulu dijadikan Bank Fadhilah yang terletak disamping kantor Polresta Bengkulu.

Selanjutny, Masjid di komplek Kantor Gubernur Bengkulu dulu namanya, “Alif Lam Mim” ganti nama istri Helmi menjadi Musolah “Khairunnisa”.

Pergantian nama tersebut menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat, setelah prasasti tanda tangan mantan Gubernur Rohidin Mersyah dicopot dan dibuang menjadi Kontroversi.

Akibat Kontroversi tersebut sempat memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat sehingga akhirnya nama rumah ibadah tersebut kembali menggunakan nama semula, yakni Masjid “Alif Lam Mim”.

Dilain tempat, Herman Lufti selaku ketua Amanah Bangsa Rakyat Indonesia Bersatu (ABRI -1) juga mengkritisi tentang Tabot tradisional hiburan sakral masyarakat Bengkulu adalah menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal masyarakat Bengkulu juga di obok-obok Helmi digantikan menjadi Tabut Pembangunan.

Bahkan lokasi bersanding Tabot juga dipindahkan ke lokasi pantai panjang yang selama ini diadakan di lapangan merdeka kampung, sudah dibangun dan ditata rapi tempatnya sesuai kebutuhan tempat bersanding Tabot, panitia dan penonton.

Belum reda persoalan itu, publik kembali dikejutkan dengan ambruknya Jembatan Air Matan di Kabupaten Seluma pada 4 April 2026.

Ironisnya, jembatan penghubung Desa Pasar Seluma dan Desa Rawa Indah baru diresmikan gubernur Helmi Hasan pada 6 Februari 2026.

Ambruknya oprit jembatan dalam waktu dua bulan setelah diresmikan menjadi pertanyaan dikalangan ahli bangunan, proyek tersebut menjadi sorotan tajam masyarakat.

“Hingga kini kondisi jembatan masih menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan terkait kualitas pembangunan infrastruktur di Bengkulu, termasuk anggaran infrastruktur yang dianggarkan hampir Rp 600 Milyar tahun 2025 kemana! Padahal masih banyak belum dibayar kepada kontraktor termasuk jembatan yang ambruk tersebut,” papar Herman Lufti.

Tak hanya itu, kini turut menyita perhatian dugaan kasus hukum pabrik minyak goreng lokal bermerek “Bumi Merah Putih” (BMP).

Pabrik yang baru diluncurkan pada 28 April 2026 oleh Gubernur Helmi Hasan, diduga bukan pabrik hanya ganti kemasan atau ganti merek jelas ini cari nama alias pencitraan, kini disegel oleh Ditreskrimsus Polda Bengkulu.

Menurut informasi, Kasus itu mencuat setelah polisi membongkar dugaan praktik pengemasan ulang Minyakita diganti merek menjadi Bumi Merah Putih, tidak sesuai standar. Dalam pengungkapan tersebut, aparat mengamankan sekitar 1.500 dus Minyakita, satu unit truk BG 8773 DR, serta tiga unit handphone.

Akibat diduga ulah Helmi tiga orang menjadi korban masing-masing HR (37), RE (26), dan RWF (35) telah ditetapkan sebagai tersangka. Rumah produksi BMP juga telah resmi disegel dan Kepala Produksi diduga ikut ditetapkan sebagai tersangka.

“Deretan polemik tersebut kini menjadi catatan yang terus membayangi perjalanan kepemimpinan Helmi–Mian yang baru memasuki tahun kedua di Provinsi Bengkulu, diduga tidak ada yang sesuai janjinya ketika kampanye, kami akan terus melakukan demo sampai turun,” tutup Herman. (hs).*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *